Tanah Kas Desa Desa Kemiri Gede Beralih Fungsi, Ini alasanya !!!


Blitar.deliknews – Entah salah atau benar proses peralihan tanah kas desa yang ada di Desa Kemiri Gede, kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, beberapa perangkat desa bakalan dipastikan akan kehilangan haknya atas tanah kas desa. Sebab, sebagian dari tanah kas desa tersebut telah berubah fungsi menjadi tempat penampungan air (embung).

Sedangkan di bangunya embung bertujuan untuk menampung kelebihan  air hujan di musim hujan. Air yang ditampung tersebut  selanjutnya digunakan sebagai  sumber  irigasi  suplementer untuk budidaya komoditas pertanian bernilai  ekonomi  tinggi (high added value crops) di musim kemarau atau disaat curah hujan makin jarang, embung  merupakan salah satu teknik pemanenan air (waterharvesting) yang sangat  sesuai di segala jenis  agroekosistem.

Hal ini yang membuat Pemeritahan Desa Miri Gede mengalih fungsikan tanah kas desa tersebut menjadi lahan pembangunan embung yang di bangun melalui anggaran dari pusat (APBN) yang dikucurkan melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jawa Timur.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Blitar.deliknews.com, Pembangunan Embung, dimulai sejak pertengahan tahun 2018, sekitar bulan Juli-Agustus dan dikerjakan oleh rekanan atau kontraktor dari PT Bangun Konstruksi Persada (BKP) yang beralamat kantor di Surabaya.

” Pembangunan itu, dianggarkan dana sekitar Rp 9 Miliar dari APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang anggarannya melekat di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), ” tutur Wiling selaku suprayer dan pengawas PT BKP, saat di temui di direksi kitnya, Jumat (25/1/2019).

Sedangkan terkait dengan peralihan tanah kas desa tersebut menjadi bangunan embung, Kepala Desa Kemiri Gede, Hari Purnawan mengatakan, ” Embung tersebut dibangun diatas lahan milik desa, dan memanjang seluas tiga hektar, yang merupakan tanah kas desa dari eks Kaur Kesra (Modin) dan Kepala Desa. Adapun bangunan kontruksinya, kurang lebih satu hektar, ” jelas Hari.

Selain itu, Dia mengaku, sebelumya tanah eks bengkok atau tanah kas desa tersebut memang dikelola oleh perangkat desa, namun karena tidak produktif, direlakan untuk dijadikan embung.

“Tanah aset desa itu, berupa tebing dan tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam, sehingga kami rubah fungsi sebagai embung, ” ungkapnya.

Lanjutnya, berubahnya fungsi tanah kas desa menjadi embung, dinilai lebih bermanfaat. Kedepanya, selain irigasi pertanian akan di kembangkan menjadi area distinasi wisata.

“ Daripada dijadikan tanah kas desa tapi tidak produktif, lebih baik dirubah menjadi embung karena lebih bermanfaat bagi orang banyak, ” ujarnya.

Namun, Hari mengaku tidak tahu menahu soal aturan yang baku dari peralihan fungsi tanah kas desa menjadi bangunan embung, apalagi masalah perizinan dan juga Analisis Menganai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari pembangunan tersebut. Sebab, semua sudah diurus oleh BBWS selaku, instansi yang memiliki anggaran.

” Kami hanya menyediakan tempat saja, untuk yang lain-lainnya saya tidak tahu, ” kata Kepala Desa Miri Gede.

Sementara itu, pembangunan embung tersebut dijadwalkan selesai pada akhir 2018. Namun, karena ada beberapa kendala non teknis, seperti tanah longsor akibat hujan lebat, ini berdampak pada molornya penyelesaian pembangunan. Akibatnya, diadakanya adendum sampai akhir bulan januari 2019.

“ Saat ini progress pengerjaan embung sudah mencapai 90 persen, kemungkinan dalam waktu dekat (akhir bulan ini), sudah selesai, ” ujar wiling.


Like it? Share with your friends!

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *